News

Kontraversi Kebijakan Produksi Susu Dalam dan Kebijakan Impor Susu

Kontraversi Kebijakan Produksi Susu Dalam dan Kebijakan Impor Susu

Dalam beberapa bulan terakhir, program "Susu Gratis" yang diinisiasi oleh pemerintah, di berbagai wilayah di Indonesia telah menjadi sorotan publik. Program ini bertujuan untuk meningkatkan asupan gizi bagi anak-anak, terutama di daerah yang memiliki tingkat gizi buruk yang cukup tinggi. Dengan menyediakan susu secara gratis kepada anak-anak di sekolah-sekolah dasar, diharapkan dapat membantu mengatasi masalah stunting dan kekurangan gizi lainnya yang masih menjadi tantangan di Indonesia.

Susu sebagai sumber protein, kalsium, dan berbagai vitamin sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun, tidak semua keluarga mampu menyediakan susu berkualitas untuk anak-anak mereka. Oleh karena itu, program ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak anak, khususnya di daerah pedesaan dan kawasan pemukiman kumuh yang memiliki akses terbatas terhadap nutrisi yang baik.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), prevalensi stunting di Indonesia masih berada pada angka yang mengkhawatirkan, terutama di daerah yang kurang mampu. Dalam upaya menanggulangi hal ini, program susu gratis menjadi salah satu solusi strategis yang diusulkan oleh pemerintah. Melalui program ini, anak-anak tidak hanya mendapatkan nutrisi yang lebih baik, tetapi juga diharapkan dapat meningkatkan tingkat kehadiran dan partisipasi mereka di sekolah.

Pelaksanaan program susu gratis ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, serta organisasi masyarakat setempat. Dalam praktiknya, susu yang diberikan biasanya merupakan susu UHT atau susu bubuk yang telah dipilih dengan standar gizi yang sesuai. Pendistribusian susu dilakukan secara terjadwal, di mana setiap anak di sekolah dasar akan mendapatkan satu gelas susu setiap harinya.

Namun, meskipun program ini mendapatkan dukungan yang luas, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi dalam implementasinya. Salah satunya adalah masalah logistik dan distribusi. Dalam beberapa kasus, susu yang didistribusikan tidak sampai ke tangan anak-anak dengan baik, seringkali karena keterbatasan transportasi atau kurangnya koordinasi antara pihak-pihak terkait. Selain itu, ada juga tantangan dalam hal kesadaran orang tua mengenai pentingnya susu bagi anak-anak mereka. Beberapa orang tua masih meragukan manfaat susu, dan lebih memilih memberikan makanan lain yang mereka anggap lebih terjangkau.

Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, diperlukan upaya yang lebih komprehensif. Salah satunya adalah dengan melakukan sosialisasi yang lebih intensif kepada masyarakat mengenai manfaat susu dan pentingnya gizi seimbang bagi anak. Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan adanya sistem distribusi yang efisien dan transparan, sehingga program ini dapat berjalan dengan baik dan tepat sasaran.

Dalam rangka mengevaluasi keberhasilan program "Susu Gratis", pemerintah berencana untuk melakukan survei dan pengukuran gizi secara berkala. Data yang diperoleh dari survei ini akan digunakan untuk menilai dampak program terhadap kesehatan dan pertumbuhan anak-anak. Diharapkan, dengan adanya evaluasi ini, program susu gratis dapat diperbaiki dan ditingkatkan lebih lanjut, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal oleh seluruh anak di Indonesia.

Keberadaan program susu gratis ini juga menunjukkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama generasi muda. Dengan memberikan akses yang lebih baik terhadap gizi, diharapkan Indonesia dapat mewujudkan visi pembangunan manusia yang lebih sehat dan berkualitas. Program ini tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga harus dilihat sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera dan mandiri.

Secara keseluruhan, program "Susu Gratis" merupakan langkah positif yang patut diapresiasi. Dengan dukungan semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun sektor swasta, diharapkan program ini dapat terus berjalan dan memberikan dampak yang signifikan dalam meningkatkan kesehatan dan gizi anak-anak di seluruh Indonesia. Keberhasilan program ini tentu akan menjadi salah satu indikator keberhasilan dalam mencapai cita-cita pembangunan yang berkelanjutan di Indonesia.

Para peternak sapi perah lokal di Indonesia semakin sulit bersaing di pasar dalam negeri. Hal ini disebabkan adanya perdagangan bebas antara Indonesia dengan Selandia Baru dan Australia yang membuat produk susu impor dari kedua negara tersebut bebas bea masuk.

Berita yang beredar beberapa waktu ini, Pemilik UD Pramono Boyolali, yakni Pramono mengaku pilih menutup usahanya karena sudah tak sanggup kegiatan ekonominya. Namun demikian, dia tidak menyalahkan kantor pajak yang membekukan rekeningnya."Aku sudah tidak sanggup," ujar pengepul susu sapi di Desa Singosari, Kecamatan Mojosongo, Boyolali, Selasa (29/10/2024).

Akibatnya, uang miliknya sebesar Rp 670 juta di rekening salah satu bank milik BUMN pun tak bisa dicairkan. Padahal, sebagian dari uang itu milik 1.300 peternak sapi perah yang menjadi mitranya. Ribuan peternak itu tersebar di lima kecamatan di Boyolali dan satu kecamatan di Klaten. Nasib peternak pun terancam terpuruk.

Selama ini, UD Pramono tak hanya membeli susu dengan harga paling tinggi, namun juga dinilai paling konsisten. Bahkan, susu dari sapi yang sakit tetap mau dibeli, meskipun akhirnya harus dibuang. Pramono juga mengaku tak pernah membebankan kepada peternak, jika susu yang akan disetorkan ditolak pabrik. Dia pun memberikan kredit tanpa bunga kepada petani binaannya. Namun, tak lama lagi, 1.300 peternak sapi perah tak mendapatkan kemudahan lagi. Ya, Pramono menyatakan tak lagi menerima susu dari peternak. Bahkan Pramono juga sudah pamitan dengan dua IPS besar yang selama ini menerima setoran susu. Saya tidak menyalahkan bank dan kantor pajak yang sudah memblokir membekukan uang saya. Saya hanya sudah tidak mampu karena capek," ungkapnya.

Ratusan petani dan peternak sapi perah menggeruduk Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Boyolali, Senin (28/10/2024) Menyusul pemblokoran rekening usaha dagang (UD) Pramono di Desa Singosari, Kecamatan Mojosongo, Boyolali. Diketahui, UD Pramono menampung setoran susu sapi dari 1.300 petani dan peternak sapi perah yang tersebar di 6 kecamatan di Boyolali serta Klaten.

Pemblokiran tersebut membuat aktivitas keuangan UD Pramono macet. Dampaknya, ribuan petani dan peternak yang bergantung pada UD Pramono itu kelabakan. Bukan hanya menampung susu, UD Pramono juga membuka koperasi simpan pinjam tanpa bunga. Bahkan petani dan peternak bisa mengambil pakan sapi kemudian pembayarannya dipotong dari uang susu. Namun, sejak minggu lalu, UD Pramono sudah berpamitan dengan para petani dan peternak untuk berhenti beroperasi.

Gito, petani asal Dusun Rejosari, Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo mengaku menggantungkan kebutuhan hariannya lewat penjualan susu sapi. Dia sudah menyetorkan susu sapi di UD Pramono sejak 10 tahun terakhir.

"Sehari saya bisa setor 20 liter susu. Harganya tinggi, Rp 7.250 per liter, paling tinggi dibandingkan yang lain. Petani minat ikut Pak Pramono karena bisa beli pakan dengan cara dicicil, kedua ada koperasi simpan pinjam bungannya 0 persen," jelas Gito di depan kantor KPP Pratama Boyolali.

"Kalau pinjam Rp 1 juta, ya potongannya 10 kali Rp 100 ribu," lanjut dia.

Menurut Gito, kemudahan ini sangat membantu petani dan peternak. Apalagi dia mengandalkan uang penjualan susu sapi untuk memenuhi kebutuhan harian. Dalam satu pekan, Gito bisa mengantongi Rp 800 ribu dari menjual susu sapi ke UD Pramono. Sedangkan untuk pakan sapi dan garam, dia juga membeli dari UD setempat.

"Kami dikasih tahu kalau Jumat (1/11/202 UD Promono) mau tutup. Hari Jumat susu enggak diambil. Terus susu disetorkan ke mana?," jelas Gito.

"Jadi kami ke sini (kantor KPP Pratama Boyolalai) mau tanya, ini sebenarnya bagaimana? Ya repot, susu dan sapi kan ragat e akeh (modal besar,Red)," imbuh dia. WartaIndo #kameru.

Admin

Admin

Administrator

Ada 0 komentar untuk artikel ini

Artikel Terkait

About Us

WartaIndo dikelola oleh PT. Proniaga Mitra Sejahtera merupakan media kolaboratif untuk memudahkan pengguna membaca, membuat, dan berbagai berita dan informasi. Warta Indo menyajikan konten berupa berita dan informasi seputar hukum, teknologi, edukasi, olahraga, hiburan, gaya hidup, wisata, kuliner, histori, trending topik, religi, seni budaya, tokoh inspiratif dan kolom opini. Selain ditulis oleh Kru redaksi, WartaIndo juga menerima tulisan dari kontributor dan pembaca.

Cart
  • Belum ada item