Madiun, gradasigo - Seni tradisional adalah jendela budaya yang menghubungkan kita dengan akar sejarah dan warisan nenek moyang. Salah satu seni yang kaya akan makna dan tradisi di Kabupaten Madiun adalah seni dongkrek. Dalam narasi ini, kita akan mengulik perjalanan seni dongkrek, khususnya kelompok seni dongkrek SATRIA MANGGALA yang dipimpin oleh Angga Sutria, serta upaya pemerintah daerah yang dipimpin oleh Anang Sulistyono dalam melestarikan budaya yang tak ternilai ini.
Sejarah Dongkrek
Dongkrek merupakan seni pertunjukan yang berakar dari budaya masyarakat Madiun. Dikenal sejak zaman dahulu, seni ini menggabungkan elemen teater, musik, dan tarian. Cerita dalam pertunjukan dongkrek sering kali diambil dari mitologi, legenda lokal, atau kisah perjuangan masyarakat. Dengan alat musik tradisional yang mengiringi, dongkrek tidak hanya menghibur tetapi juga menyampaikan pesan moral dan sosial. Dalam perkembangannya, dongkrek mengalami berbagai perubahan, tetapi esensi dan makna budayanya tetap terjaga.
Macam-macam Karakter pada Topeng Dongkrek
Salah satu ciri khas seni dongkrek adalah penggunaan topeng. Setiap topeng menggambarkan karakter yang berbeda, masing-masing memiliki sifat, latar belakang, dan peran unik dalam pertunjukan. Tokoh-tokoh dalam seni Dongkrek, antara lain:
- Roro Perot/Wewe Putih: Melambangkan abdi kinasih atau pengikut setia Raden Prawirodipoero yang berwatak teguh, pantang menyerah, dan setia.
- Roro Ayu: Melambangkan putri pejabat yang anggun, sopan, bertata krama, dan selalu berbuat kebaikan.
- Kyai/Raden Prawirodipuro: Melambangkan watak kesatria, bijak, dan kuat lahir-batin.
- Genderuwo Merah: Melambangkan sifat jahat, seram, mudah marah, dan emosi.
Keberagaman karakter ini tidak hanya menambah warna dalam pertunjukan tetapi juga memberikan pelajaran tentang nilai-nilai kehidupan.
<iframe title="YouTube video player" src="//www.youtube.com/embed/0qsqW_Q5sLs?si=Qu9jM_7V8pnKz4nD" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe>
Alat musik yang digunakan
Dalam seni tari Dongkrek dari Madiun, terdapat berbagai alat musik yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan. Berikut penjelasan masing-masing alat musik:
- Bedug
Bedug merupakan alat musik tabuh yang berbentuk drum besar dan menghasilkan suara yang kuat dan dalam. Dalam Dongkrek, bedug memberikan ritme dasar yang menandai tempo gerakan para penari. Suaranya juga kerap digunakan untuk mengatur momen-momen dramatis atau perubahan suasana dalam pertunjukan. - Korek
Korek adalah alat musik yang menyerupai suara gesekan dari alat sederhana seperti batang bambu atau kayu. Dalam tari Dongkrek, korek melambangkan suara mistis atau suara yang menambah suasana mencekam ketika pertunjukan berlangsung, terutama saat menggambarkan adegan roh atau setan. - Kenong
Kenong adalah alat musik tradisional Jawa yang terbuat dari logam dan berbentuk seperti gong kecil. Kenong menghasilkan suara yang nyaring dan bernada tinggi, digunakan untuk menandai bagian-bagian tertentu dalam alunan musik dan memberikan aksen pada gerakan tari. - Kentongan
Kentongan adalah alat musik perkusi yang terbuat dari bambu. Dalam pertunjukan Dongkrek, kentongan digunakan untuk memberikan ritme yang cepat dan dinamis. Suara kentongan juga sering kali menambah suasana dramatis dan penuh ketegangan dalam pertunjukan. - Kendang
Kendang adalah drum tradisional yang biasanya dimainkan dengan tangan. Dalam Dongkrek, kendang berfungsi sebagai pengatur tempo utama dan memperkaya irama musik yang mengiringi gerakan tari. Kendang juga membantu membedakan karakter atau mood dari adegan yang sedang ditampilkan. - Gong Beri
Gong beri adalah salah satu jenis gong yang lebih kecil dan memberikan nada yang tinggi. Dalam pertunjukan, gong beri biasanya digunakan untuk menandai awal atau akhir dari bagian tertentu dalam alur cerita, memberikan tanda perubahan suasana dalam musik pengiring. - Gong Pamungkas
Gong pamungkas merupakan gong yang lebih besar dan memberikan suara yang dalam serta resonan. Suara gong pamungkas sering digunakan pada momen puncak atau klimaks dalam pertunjukan, menandai akhir atau kesimpulan dari suatu adegan penting dalam tari Dongkrek. - Alat-alat musik ini bekerja sama untuk menciptakan suasana mistis, dinamis, dan dramatis yang khas dari pertunjukan Dongkrek.
Upaya Pemerintah Daerah dalam Melestarikan Budaya Seni Dongkrek
Pemerintah Kabupaten Madiun, melalui Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga yang dipimpin oleh Anang Sulistyono, berkomitmen untuk melestarikan seni dongkrek. Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari penyelenggaraan festival dongkrek yang melibatkan berbagai kelompok seni, hingga pelatihan bagi generasi muda agar mereka dapat mewarisi pengetahuan dan keterampilan dalam seni ini. Selain itu, pemerintah juga aktif dalam mempromosikan pertunjukan dongkrek ke tingkat yang lebih luas, baik di dalam maupun luar daerah, untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni tradisional ini.
Melalui upaya ini, diharapkan seni dongkrek tidak hanya dapat bertahan, tetapi juga berkembang seiring dengan perubahan zaman. Dengan dukungan dari pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat, seni dongkrek di Kabupaten Madiun akan terus menjadi bagian penting dari identitas budaya Indonesia yang kaya.
Penutup
Seni dongkrek adalah cermin dari kekayaan budaya yang perlu dilestarikan dan dihargai. Melalui narasi ini, kita diajak untuk lebih mengenal dan mencintai seni tradisional yang menjadi warisan nenek moyang kita. Mari bersama-sama mendukung upaya pelestarian budaya ini agar generasi mendatang dapat menikmati dan belajar dari keindahan seni dongkrek yang tak lekang oleh waktu.
Dongkrek merupakan kesenian daerah asli dari Desa Mejayan, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Kesenian ini berupa tarian dan iringan musik yang mengisahkan upaya Raden Ngabei Lo Prawirodipuro dalam mengatasi pageblug mayangkoro.
Ada 0 komentar untuk artikel ini